Cerita

Kesenian Besutan, Budaya pembawa pesan

Kabupaten Jombang memiliki kesenian khas yang telah menjadi ikon dari Jombang. Ikon tersebut adalah Besutan. Besutan adalah kesenian tradisional asli Kabupaten Jombang yang merupakan pengembangan dari Kesenian Lerok, dan juga merupakan cikal bakal dari Ludruk. 

Sejarah Besutan
Besutan merupakan salah satu kesenian asli jombang yang sudah ada sejak zaman penjajahan, namun sampai saat ini banyak masyarakat yang tak menegenal Besutan, bahkan warga Jombang sendiri sudah mulai melupakan budaya yang menjadi cikal bakal budaya Ludruk ini.


mBah Sayid Sulaiman Mojoagung

Banyak wisata Religi di daerah Jombang, dimana kota ini telah lama terkenal dengan julukan kota santri, setidaknya ada Lima pondok pesantren besar di Jombang yang terkenal seperti Ponpes Tebuireng di Cukir Diwek, Ponpes Darul Ulum di Rejoso Peterongan, Ponpes Bahrul Ulum di Tambakberas, Ponpes Mambaul Maarif di Denanyar dan Ponpes Luhur Nurhasab di Gadingmangu Perak.

Kelenteng Hong San Kion di Gudo, juga sering dikunjungi wisatawan sebagai wisata religi di Jombang, Selain dikenal sebagai tempat ibadah Tridarma (Agama Taoisme, Budha, dan Konghucu) juga sebagai tempat berobat. Menariknya yang datang untuk berobat juga banyak yang dari kalangan pribumi. Setiap menjelang Tahun Baru Imlek, kelenteng ini mengadakan acara hajatan yang cukup meriah, seperti Wayang Potehi maupun Pagelaran Barongsay.
Selanjutnya ...


Kebo Kicak Karang Kejambon


Bagi si penelurus cerita rakyat, cerita kuno Kebokicak yang telah berkembang menjadi cerita tutur di wilayah Jombang bukanlah perkara gampang untuk dibabar-tuliskan. Satu sisi “sang cerita” telah menempat terutama pada ingatan orang-orang sepuh, dan hal itu sangat memungkinkan untuk terceritakan kembali pada orang lain, pada generasi selanjutnya. Satu kesulitan lain adalah cerita tersebut hingga saat ini tak tertuliskan, atau seandainya sudah ada yang menuliskannya, kita belum mengetahuinya. Artinya dalam konteks filologis adakah manuskrip ihwal cerita Kebokicak nyata-nyata tertemukan dan memiliki jarak masa tertentu sebagaimana yang secara akademis memenuhi persyaratan sebagai sumber keilmuan yang otentik dan akurat, misalnya naskah tersebut telah diserat oleh seorang pujangga di masa lampau, mungkin masanya bisa seratusan tahun silam, dan karenanya jika memang itu ada dapatlah dijadikan rujukan.
Selanjutnya....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar